Postingan

Orang-Orang Malang

Dor! Dor! Dor!Dor! Empat buah peluru menembus tubuh kakak kandungku, Mas Rizal. Darah muncrat dari dada dan kepalanya. Kemudian tubuhnya tersungkur mencium tanah. Seluruh tubuhnya dipenuhi darah. Nyawanya melayang setelah bunyi dor yang keempat keluar dari moncong pistolku. Sementara sopir pribadinya terlihat panik. Apalagi mereka hanya berdua. Entah mengapa, ibu, ayah, dan Mas Aldi tidak ikut menikmati liburan saat itu. Aku tidak mau tahu tentang hal itu. Yang penting aku bisa tersenyum setelah berhasil membunuh Mas Rizal. Kulihat wajah ibu begitu berduka ketika salah satu televisi menayangkan peristiwa itu. Ibu sangat menyayangkan salah satu putranya meninggal secara tidak wajar. Sebagaimana ibu, Mas Aldi juga merasakan duka yang sangat mendalam. Baginya, terlalu banyak kenangan indah yang sulit dilupakan. Ketika masih kecil, Mas Rizal dan Mas Aldi selalu bermain perang-perangan dengan peralatan pistol-pistolan, mobil-mobilan, rumah-rumahan, dan tank yang terbuat dari plastik. ...

Lampu Templek Mbah Sholeh

Lelaki yang biasa dipanggil Mbah Sholeh itu merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang tua. Sebentar kemudian ia terlelap. Ia terlalu capek setelah seharian bekerja; mencangkuli sawah, memberi makan ternak, dan memandikan sapi. Ia harus bangun pagi; mengaji Al-Quran sebelum subuh, mengumandangkan azan, membaca dzikir dengan sisa-sisa suaranya yang tidak terlalu merdu, sambil menunggu anak-anak tetangga mengaji Al-Quran. Setelah Sholat Dhuha, Mbah Sholeh melakukan kegiatan rutinnya. Menjelang mahgrib ia sudah berada di Musolla. Mengurusi anak-anak tetangga mengaji Al-Quran, menghafal sifat-sifat wajib dan muhal bagi Allah dan Rosulnya. Setiap malam Sabtu anak-anak tidak usah mengaji Al-Quran. Mereka belajar dan menghafal bacaan sholat-sholat fardlu. “Mbah, Rani sudah bisa membaca Al-Quran sendiri, Mbah,” Kata Rani, salah satu santrinya. “Kalau Ahmad sudah hampir hatam Quran Kecil,” Ahmad tak mau kalah. “Mbah, jika saya pandai mengaji Al-Quran, saya akan mengaji ke atas Mbah, ya,” Rom...

Kado Keranda

Kini aku hanya membayangkan, berapa peluru yang akan menembus tubuh bunda. Satu, dua, tiga, tujuh, sembilan, atau bahkan hingga berpuluh-puluh peluru. Bunda mungkin akan menggelepar-gelepar setelah peluru-peluru itu menembus dadanya, jantungnya, kepalanya, perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya. Mungkin juga bunda akan meronta-ronta kesakitan, sedangkan kedua belah matanya tertutup kain. Kedua tangannya diikat erat. Kedua kakinya juga diikat tanpa ada kesempatan bergerak satu senti pun. Yang lebih mengerikan, darah yang keluar dari pori-pori tubuh yang ditembus peluru akan muncrat. Lalu mengubah warna tubuh bunda yang kecoklatan menjadi warna merah mengerikan. Lalu membasahi padang rumput tempat eksekusi mati itu dilakukan. ”Ah, tidaaakkk!!!!,” aku menjerit sambil menutup mulutku dengan bantal agar tak terdengar tetangga. Setelah palu hakim menentukan vonis hukuman mati, aku sempat menolak. Aku hanya minta agar diberi ruang diskusi dan dialog. Menurut hakim ketua, bunda seorang...