Postingan

Lampu Templek Mbah Sholeh

Lelaki yang biasa dipanggil Mbah Sholeh itu merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang tua. Sebentar kemudian ia terlelap. Ia terlalu capek setelah seharian bekerja; mencangkuli sawah, memberi makan ternak, dan memandikan sapi. Ia harus bangun pagi; mengaji Al-Quran sebelum subuh, mengumandangkan azan, membaca dzikir dengan sisa-sisa suaranya yang tidak terlalu merdu, sambil menunggu anak-anak tetangga mengaji Al-Quran. Setelah Sholat Dhuha, Mbah Sholeh melakukan kegiatan rutinnya. Menjelang mahgrib ia sudah berada di Musolla. Mengurusi anak-anak tetangga mengaji Al-Quran, menghafal sifat-sifat wajib dan muhal bagi Allah dan Rosulnya. Setiap malam Sabtu anak-anak tidak usah mengaji Al-Quran. Mereka belajar dan menghafal bacaan sholat-sholat fardlu. “Mbah, Rani sudah bisa membaca Al-Quran sendiri, Mbah,” Kata Rani, salah satu santrinya. “Kalau Ahmad sudah hampir hatam Quran Kecil,” Ahmad tak mau kalah. “Mbah, jika saya pandai mengaji Al-Quran, saya akan mengaji ke atas Mbah, ya,” Rom...

Kado Keranda

Kini aku hanya membayangkan, berapa peluru yang akan menembus tubuh bunda. Satu, dua, tiga, tujuh, sembilan, atau bahkan hingga berpuluh-puluh peluru. Bunda mungkin akan menggelepar-gelepar setelah peluru-peluru itu menembus dadanya, jantungnya, kepalanya, perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya. Mungkin juga bunda akan meronta-ronta kesakitan, sedangkan kedua belah matanya tertutup kain. Kedua tangannya diikat erat. Kedua kakinya juga diikat tanpa ada kesempatan bergerak satu senti pun. Yang lebih mengerikan, darah yang keluar dari pori-pori tubuh yang ditembus peluru akan muncrat. Lalu mengubah warna tubuh bunda yang kecoklatan menjadi warna merah mengerikan. Lalu membasahi padang rumput tempat eksekusi mati itu dilakukan. ”Ah, tidaaakkk!!!!,” aku menjerit sambil menutup mulutku dengan bantal agar tak terdengar tetangga. Setelah palu hakim menentukan vonis hukuman mati, aku sempat menolak. Aku hanya minta agar diberi ruang diskusi dan dialog. Menurut hakim ketua, bunda seorang...

Kugendong Rembulan

Tiba-tiba tangan dan kakiku digerakkan makhluk ghaib yang berkekuatan tinggi. Secara sigap kedua kakiku melangkah ke sana ke mari. Sedangkan kedua   tanganku mengumpulkan tangga dan tali pengikat. Beberapa saat kemudian, berjuta-juta tangga berserakan di depanku. Kemudian kususun satu persatu dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. “Bulan, takluklah engkau dalam pelukanku!” batinku, seraya menyusun tangga-tangga itu sampai tinggi. Bulan begitu purna. Pancaran sinarnya menerangi seisi dunia. Dari ketinggian ini pula, aku sempat menikmati keindahan alam semesta. Danau-danau, selat dan samudera, gunung-gunung, pepohonan, juga keindahan-keindahan negeri yang membentang luas dihiasi dengan warna indah rembulan, bagiku menjadi ibrah kemahaindahan sang pencipta. Tuhan, bagaimana engkau melukis semua ciptaan-Mu ini? Apakah sinar rembulan itu yang membuat indah segala ciptaan-Mu? Seingatku, tak pernah kulihat dan kusaksikan pemandangan indah seperti ini. Seingatku pula, sering kuli...