Postingan

BERDAMAI DENGAN KEMATIAN

BERDAMAI DENGAN KEMATIAN Oleh Suhairi Rachmad* Judul Buku   : Psikologi Kematian 2 Penulis         : Komaruddin Hidayat Penerbit       : Naora Books Cetakan        : Pertama , Januari 201 3 Tebal           : xxiv + 214 halaman ISBN           : 97 8 - 602 - 9498-87-5 Kematian seringkali menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. K etiadaan nyawa dalam organisme biologis ini pasti dialami oleh siapa pun; baik yang tua maupun yang muda. Bila ajal telah tiba, tak seorang pun bisa menundanya walaupun hanya sesaat. Sebaliknya, kematian tidak akan hadir lebih awal dari takdir yang ditentukan. Kematian merupakan rahasia sang pencipta. Buku Psikologi Kematian 2 ini menuntun kita agar berdamai dengan kematian dengan cara mempersiapkan bekal semasa hidup. Kekurangan bekal menghadapi ...

PUISI YANG MENGEJA MAUT DAN TUHAN

PUISI YANG MENGEJA MAUT DAN TUHAN Oleh Suhairi Rachmad* Judul Buku             : Pesan Pendek dari Tuhan Penulis        : BH. Riyanto Penerbit      : Kanzun Books, Sidoarjo Cetakan       : Pertama , Februari 201 3 Tebal           : xii + 60 halaman ISBN          : 97 8 - 602 - 18855-3-6 Karya sastra adalah hasil sebuah perenungan yang mendalam dari seorang pengarang dengan media bahasa. Pengarang menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, dan semangat keyakinan dan kepercayaannya yang diekspresikan ke dalam sebuah karya sastra. Karya sastra mampu memberikan kesadaran dan pengalaman batin bagi pembacanya. Menurut Sumardjo dan Saini (1991:10), pengalaman manusia merupakan akumulasi yang utuh karena meliputi kegiatan pikiran, nalar, kegiatan per...

SUARA AZAN

Suara azan itu seperti selalu menggema dari load speaker mesjid di kampung ini. Padahal, Suparto, yang biasa mengumandangkan azan sudah meninggal dunia dua minggu yang lalu. Orang-orang setengah percaya setengah tidak. Mana mungkin Suparto kembali melantunkan azan. Juga tak mungkin ada orang lain yang menggantikan posisi Suparto, dengan suara dan alunan yang sama dengan cara azan Suparto. Orang-orang berduyun-duyun mendatangi mesjid. Mereka ingin memastikan, apakah Suparto hidup lagi atau ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai muaddzin . Di halaman mesjid, tak seorang pun yang berani mendekat ke mimbar, atau sekedar mendekat ke pintu mesjid. Jangan-jangan, pelantun azan tersebut roh Suparto yang gentayangan dan sudah menjadi pocong. Setelah hampir satu jam menunggu, ternyata tak seorang pun yang keluar dari mesjid. Orang-orang membubarkan diri sambil menyimpan tanda tanya dalam diri mereka masing-masing. ”Tak mungkin ada orang lain yang melantunkan azan di mesjid...