Postingan

LelakiI Pemabuk

Barja terus menyeret langkah kakinya. Kadang-kadang jempol kakinya membentur gundukan tanah dan membuatnya terjatuh. Ia hampir tak mampu membawa beban tubuhnya sampai di rumahnya. Tubuhnya terasa sangat lemas. Tenaga yang ia miliki hampir habis setelah mengadakan pesta miras dengan teman-temannya di sebuah café. Barja terus menyeret langkah kakinya. Angin malam yang menerpa tubuhnya tak dihiraukannya. Padahal, suasana malam itu sangat dingin. Mungkin pengaruh alkohol yang bersarang dalam tubuhnya membuat Barja tak kedinginan. Hanya rambutnya yang ikal dan gondrong seakan terusik terpaan udara malam yang santer. Tiba-tiba Barja merasakan sebuah pentungan mendarat pada bagian punggungnya. Barja tersungkur di tanah. Ia berusaha membalikkan tubuhnya sambil mengeram kesakitan. Ia melihat dua orang berdiri tegar dan gagah sambil memegang sebuah pentungan berukuran sekitar satu meter. Tapi Barja tak bisa mengenali kedua orang tersebut. Wajah mereka tertutup kain ala ninja. Penampilan ...

Kain Kafan Pejuang

”Jika kelak aku mati, bungkuslah aku dengan kain kafan warna merah!” Begitulah Martopo berwasiat kepada anak-anaknya, setelah beberapa bulan yang lalu istrinya meninggal dunia. Anak-anak Martopo tak banyak   bertanya. Ketika ajal berada di ambang pintu rumah Martopo, satu di antara anak-anaknya langsung menyiapkan kain kafan warna merah. Dulunya, Martopo adalah lelaki gagah perkasa. Penampilannya selalu rapi. Kedisiplinannya sebagai generasi bangsa, membuatnya terpanggil untuk membebaskan negeri ini dari penjajah. Ia selalu berada di garis paling depan. Sambil memanggul senjata, perjuangannya untuk menumpas kaum penjajah merupakan tekad yang bulat. Tak boleh ditawar. Apalagi ditukar dengan sebuah materi. Ia bukan pengecut yang berlindung dibalik kata ’pejuang negeri’. ”Jika aku berhasil mengusir penjajah dari negeri ini, aku akan mempersunting dirimu,” Kata Martopo kepada Astinah, perempuan asal Klaten Jawa Tengah, yang bekerja di dapur umum. Diam-diam Astinah menaruh hati ...