Postingan

Kugendong Rembulan

Tiba-tiba tangan dan kakiku digerakkan makhluk ghaib yang berkekuatan tinggi. Secara sigap kedua kakiku melangkah ke sana ke mari. Sedangkan kedua   tanganku mengumpulkan tangga dan tali pengikat. Beberapa saat kemudian, berjuta-juta tangga berserakan di depanku. Kemudian kususun satu persatu dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. “Bulan, takluklah engkau dalam pelukanku!” batinku, seraya menyusun tangga-tangga itu sampai tinggi. Bulan begitu purna. Pancaran sinarnya menerangi seisi dunia. Dari ketinggian ini pula, aku sempat menikmati keindahan alam semesta. Danau-danau, selat dan samudera, gunung-gunung, pepohonan, juga keindahan-keindahan negeri yang membentang luas dihiasi dengan warna indah rembulan, bagiku menjadi ibrah kemahaindahan sang pencipta. Tuhan, bagaimana engkau melukis semua ciptaan-Mu ini? Apakah sinar rembulan itu yang membuat indah segala ciptaan-Mu? Seingatku, tak pernah kulihat dan kusaksikan pemandangan indah seperti ini. Seingatku pula, sering kuli...

Duka Malam Tahun Baru

Malam masih menyisakan gerimis setelah hujan mengguyur bumi sore tadi. Mendung masih menutupi wajah langit, sebagaimana mendung yang menggantung di langit bola mata perempuan bernama Anita. Kedua bola mata Anita juga menurunkan gerimis. Ia tak tahu mengapa hal itu terjadi. Seharusnya, malam ini ia bisa menyaksikan tebaran kembang api di alun-alun kota bersama sang suami. Namun, apa boleh buat, kemarin lusa sang suami harus berurusan dengan polisi. “Maafkan aku, sayang! Malam ini aku tak bisa menemanimu bertahun baru di alun-alun kota.” Anita membayangkan suaminya mengeluarkan kata-kata itu. Sambil menatap baju-baju suaminya yang menggantung, Anita terus merangkai dialog. Ya, dialog satu arah. “Janganlah kau kecewa, sayang! Rayakanlah malam tahun baru dengan anak-anak dan orang-orang yang juga ikut menyaksikan tebaran kembang api sambil meniup terompet. Jangan pedulikan aku! Ayo, berangkatlah! Jangan mengurung diri di kamar. Jangan bersedih hati!” Anita terus merangkai kata-kata...

Pahitnya Secangkir Kopi

Suminah menuangkan air panas ke dalam cangkir   yang sudah berisi bubuk kopi dan gula. Pagi ini ia ingin menyuguhkan secangkir kopi kesukaan suaminya. Hari ini ia tidak boleh gagal dan harus bisa merebut hati suaminya untuk bisa menikmati kopi buatannya, walaupun hanya seteguk atau setetes. Sudah beberapa hari terakhir suaminya tidak mau menikmati secangkir kopi yang ia suguhkan. Suminah sendiri tidak tahu, kenapa. Apakah suguhan kopinya itu kurang manis, kurang nikmat, atau kurang …. Atau memang ada perempuan lain yang telah membuatkan kopi yang lebih manis dan lebih nikmat daripada buatan isterinya sendiri. “Mas, kopi ini nikmaaatt... sekali! Kopi ini akan membuat Mas lebih segar lagi di kantor. Kopi ini tidak akan membuat Mas ngantuk sampai Mas menyelesaikan kerja hari ini.” Suminah merayu suaminya, Paijo, agar ia mau menikmati secangkir kopi yang   ia buat. Paijo tidak memperhatikan rayuan maut Suminah. Paijo sibuk merapikan pakaiannya sambil menyemprotkan parfum p...