Postingan

Kain Kafan Pejuang

”Jika kelak aku mati, bungkuslah aku dengan kain kafan warna merah!” Begitulah Martopo berwasiat kepada anak-anaknya, setelah beberapa bulan yang lalu istrinya meninggal dunia. Anak-anak Martopo tak banyak   bertanya. Ketika ajal berada di ambang pintu rumah Martopo, satu di antara anak-anaknya langsung menyiapkan kain kafan warna merah. Dulunya, Martopo adalah lelaki gagah perkasa. Penampilannya selalu rapi. Kedisiplinannya sebagai generasi bangsa, membuatnya terpanggil untuk membebaskan negeri ini dari penjajah. Ia selalu berada di garis paling depan. Sambil memanggul senjata, perjuangannya untuk menumpas kaum penjajah merupakan tekad yang bulat. Tak boleh ditawar. Apalagi ditukar dengan sebuah materi. Ia bukan pengecut yang berlindung dibalik kata ’pejuang negeri’. ”Jika aku berhasil mengusir penjajah dari negeri ini, aku akan mempersunting dirimu,” Kata Martopo kepada Astinah, perempuan asal Klaten Jawa Tengah, yang bekerja di dapur umum. Diam-diam Astinah menaruh hati ...

Bercak Darah Terakhir

Setiap kali mencuci pakaian suaminya, Surtini selalu menemukan bercak darah. Dalam sebulan ini, sebanyak lima kali bercak darah menempel pada bagian pakaiannya; celana, baju, dan topi yang biasa dipakai suaminya ketika bepergian. ”Ini darah manusia, bukan darah binatang,” Surtini bergumam, seakan ia sengaja menyembunyikan hal ini. Pada awalnya, Surtini menyangka bahwa suaminya terjatuh hingga berdarah. Ketika ia menanyakan kepada Parto, suaminya, Surtini tak menemukan jawaban yang memuaskan. Paling-paling, Parto hanya meletakkan telunjukknya pada bagian bibirnya. Surtini pun tak memperpanjang masalah temuan bercak darah ini. Surtini baru ingat. Beberapa hari yang lalu, seorang tetangganya mati mengenaskan. Menurut berita yang beredar dari mulut ke mulut, mayat itu ditemukan tergeletak di atas pematang sawah. Tubuhnya nyaris rata dengan darah. Telinga kirinya hilang entah ke mana. Begitu juga bagian lidah dan bibirnya. Sedangkan kedua pahanya terpotong, namun tetap berada di dekat...